Tim Trip Keliling DiengDestinasi5 menit baca

Candi Bima, Gatotkaca, dan Dwarawati: candi Dieng di luar Arjuna

Ilustrasi candi batu kecil beratap bertingkat di lereng berkabut Dieng
Ilustrasi candi di luar kompleks Arjuna (lukisan digital, bukan foto).

Jawaban singkat

Candi Bima, Candi Gatotkaca, dan Candi Dwarawati adalah candi Hindu di Dieng yang berdiri di luar Kompleks Candi Arjuna. Candi Gatotkaca ada di dekat Museum Kailasa, Candi Bima di jalan menuju Kawah Sikidang dengan atap bertingkat berhias relung berisi kepala (kudu), dan Candi Dwarawati di sisi Dieng Wetan. Gatotkaca dan Bima mudah disisipkan dalam rute Candi Arjuna dan Kawah Sikidang, sedangkan Dwarawati perlu sedikit bergeser ke sisi Dieng Wetan.

Kebanyakan orang hanya mengenal Kompleks Candi Arjuna, lalu pulang mengira itu seluruh peninggalan candi di Dieng. Padahal ada candi lain yang berdiri sendiri di luar kompleks itu. Tiga yang paling mudah dicapai adalah Candi Gatotkaca, Candi Bima, dan Candi Dwarawati. Ketiganya lebih sepi, dan masing-masing menambah gambaran tentang percandian Dieng.

Percandian Dieng tidak hanya Arjuna

Kompleks Candi Arjuna adalah candi Hindu dari abad ke-7 sampai ke-8 dan termasuk yang tertua di Jawa. Nama candi di kompleks itu diambil dari tokoh Mahabharata: Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra. Candi Bima, Gatotkaca, dan Dwarawati memakai nama tokoh dari cerita yang sama, dan nama-nama ini umumnya dijelaskan sebagai sebutan masyarakat, bukan nama asli dari masa pembangunannya.

Bedanya, tiga candi ini tidak berderet dalam satu lapangan. Masing-masing berdiri sendiri di titik yang berbeda di Dataran Tinggi Dieng. Latar sejarahnya dibahas lebih lengkap di sejarah Dieng dan candi Hindu tertua.

Di mana letak Candi Bima, Gatotkaca, dan Dwarawati?

Candi Gatotkaca ada di dekat Museum Kailasa, Candi Bima di jalan menuju Kawah Sikidang, dan Candi Dwarawati di sisi Dieng Wetan. Dua yang pertama dekat dengan rute utama, sedangkan Dwarawati agak terpisah.

CandiLetakYang diperhatikanDurasi (perkiraan)
GatotkacaDekat Museum KailasaCandi tunggal di dekat museum yang menyimpan arca dan batu candiSekitar 15–30 menit
BimaDi jalan menuju Kawah SikidangAtap bertingkat dengan relung berisi kepala (kudu)Sekitar 15–30 menit
DwarawatiSisi Dieng WetanCandi tunggal yang lebih sepi dan tenangSekitar 15–30 menit

Durasi di atas belum termasuk perjalanan dan foto rombongan. Kalau digabung dengan Museum Kailasa, tambahkan waktu untuk melihat koleksi di dalamnya.

Candi Bima: atap bertingkat dan relung kudu

Candi Bima adalah yang paling berbeda bentuknya. Atapnya bertingkat, dan pada tingkat-tingkat itu ada relung berisi kepala yang disebut kudu. Bentuk ini sering disebut mendapat pengaruh India, dan itu yang membuatnya mudah dibedakan dari candi-candi di kompleks Arjuna.

Karena letaknya di jalan menuju Kawah Sikidang, Candi Bima paling praktis disinggahi sebelum atau sesudah kawah. Luangkan waktu untuk berjalan mengelilinginya dan melihat relung di atap dari beberapa sisi. Cahaya pagi yang miring membuat relung dan kepala kudu lebih jelas terlihat.

Candi Gatotkaca dan Museum Kailasa

Candi Gatotkaca berdiri dekat Museum Kailasa, sehingga keduanya enak dikunjungi bersamaan. Urutan yang masuk akal: masuk museum dulu untuk melihat arca, batu candi, dan penjelasan sejarah Dieng, lalu keluar dan melihat Candi Gatotkaca dengan mata yang lebih terlatih.

Cara ini membantu terutama untuk anak sekolah. Setelah melihat batu candi di museum, mereka lebih mudah memahami bagian-bagian candi yang berdiri di luar. Ulasan museum ada di Dieng Plateau Theater dan Museum Kailasa.

Candi Dwarawati di sisi Dieng Wetan

Candi Dwarawati berada di sisi Dieng Wetan, terpisah dari kelompok candi di sekitar Arjuna. Candi ini jarang masuk rute rombongan, sehingga suasananya tenang.

Namanya juga dipakai untuk salah satu jalur pendakian Gunung Prau, jadi jangan bingung kalau mendengar warga menyebut Dwarawati dalam konteks pendakian. Untuk pengunjung candi, Dwarawati cocok disinggahi saat rute sedang berada di sisi Dieng Wetan, bukan sebagai tujuan khusus yang membuat rute bolak-balik.

Kenapa layak didatangi?

Tiga candi ini layak didatangi karena menunjukkan bahwa percandian Dieng lebih luas dari satu kompleks. Anda melihat variasi bentuk, terutama atap Candi Bima, dan memahami bahwa dataran tinggi ini dulunya punya banyak bangunan suci.

Alasan praktisnya juga ada. Candi-candi ini lebih sepi daripada Arjuna, sehingga foto tanpa kerumunan lebih mudah. Kunjungannya singkat, sehingga mudah diselipkan di sela objek utama. Untuk study tour, ketiganya memberi bahan diskusi yang tidak didapat kalau hanya melihat satu kompleks.

Merangkai dalam satu rute

Contoh alur, bisa diatur, untuk setengah hari bertema candi dan kawah:

  1. Pagi: Candi Arjuna saat cahaya masih lembut.
  2. Lanjut: Museum Kailasa, lalu Candi Gatotkaca di dekatnya.
  3. Menjelang siang: Candi Bima di jalan menuju kawah.
  4. Siang: Kawah Sikidang, ikuti petunjuk petugas dan jangan berlama-lama saat uap pekat.

Candi Dwarawati disisipkan saat rute melewati sisi Dieng Wetan, misalnya di awal hari setelah sunrise atau sebelum turun ke Wonosobo. Pembagian posisi objek ada di peta dan urutan wisata Dieng. Tiket tiap objek bisa dibayar terpisah atau lewat tiket gabungan bila tersedia. Cek tarif tiket terbaru di loket.

Etika di situs cagar budaya

Candi di Dieng adalah cagar budaya yang sudah berdiri lebih dari seribu tahun. Beberapa aturan sederhana:

  • Jangan memanjat candi atau duduk di batu bangunannya.
  • Jangan menyentuh atau menggosok relief dan hiasan.
  • Jangan mencoret, menempel, atau memindahkan batu, sekecil apa pun.
  • Bawa pulang sampah sendiri.
  • Untuk drone dan pemotretan komersial, tanyakan izin ke petugas lebih dulu.
  • Rombongan sekolah sebaiknya dibagi ke kelompok kecil dengan satu pendamping.

Aturan di tiap lokasi bisa berbeda. Ikuti arahan petugas di tempat.

Kapan sebaiknya dibantu Trip Keliling Dieng

Untuk rombongan sekolah, kantor, atau keluarga besar, tantangan utamanya bukan candinya, tetapi memindahkan banyak orang antartitik tanpa kehilangan waktu. Shuttle bis micro kami mengantar dari satu objek ke objek berikutnya, sopir tahu tempat parkir yang cocok, dan urutan disusun agar tidak bolak-balik. Catering nasi box bisa diantar ke titik makan, penginapan dicarikan sesuai jumlah orang, dan penjemputan dari kota asal bisa digabung. Panduan rombongan sekolah ada di study tour sekolah ke Dieng.

Kalau Anda berdua atau berempat dengan mobil sendiri, tiga candi ini mudah dikunjungi mandiri. Trip Keliling Dieng (tripdieng.com) berguna saat jumlah orang membuat urusan kendaraan dan makan jadi rumit. Harga berubah mengikuti musim dan jumlah orang. Tanya lewat WhatsApp.

Rombongan butuh satu kendaraan?

Shuttle bis micro untuk antar-jemput Wonosobo atau keliling Dieng seharian.

Tanya lewat WhatsAppatau rakit perjalananmu

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah Candi Bima termasuk Kompleks Candi Arjuna?

Tidak. Candi Bima berdiri sendiri di jalan menuju Kawah Sikidang, terpisah dari kompleks Arjuna. Ciri utamanya atap bertingkat dengan relung berisi kepala yang disebut kudu.

Apakah tiket Candi Arjuna berlaku untuk Candi Bima dan Gatotkaca?

Ketentuannya bisa berubah, dan kadang ada tiket gabungan untuk beberapa objek. Cek tarif tiket terbaru di loket.

Candi mana yang paling cocok untuk anak sekolah?

Candi Gatotkaca, karena dekat Museum Kailasa. Anak bisa melihat arca dan batu candi di museum dulu, lalu membandingkannya dengan candi yang berdiri di luar.

Kapan waktu terbaik mengunjungi candi-candi ini?

Pagi hari, saat cahaya miring dan pengunjung belum banyak. Pada musim hujan, November sampai Maret, pagi biasanya cerah sedangkan siang sampai sore sering hujan.

Apakah ketiga candi ini bisa dicapai dengan bus?

Candi Gatotkaca dan Candi Bima dekat dengan rute utama yang biasa dilalui rombongan. Untuk Candi Dwarawati, tanyakan kondisi akses dan parkir terbaru sebelum membawa kendaraan besar.

Diperbarui 28 Oktober 2026. Jam dan alur di artikel ini contoh, bukan jadwal yang dijanjikan. Harga mengikuti musim dan jumlah orang, tanya lewat WhatsApp.

Artikel lain di Destinasi